Personal Branding, Memang Penting



Belajar Menulis Gelombang 4
Pertemuan 1 : Senin, 2 Maret 2019
Waktu             : Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Pemateri        : Agus Sampurno
Topik              : Aspek Menulis dan Personal Branding
Peresume      : Theresia Sri Rahayu, S.Pd. SD (theresiasrirahayu84@gmail.com)




image source : https://images.app.goo.gl/2hLcHZBB26z9PMSt9  

Pada bagian pengantar pelatihan menulis gelombang 4, Pemateri memberikan pengantar berupa pertanyaan “Ketika kita mencari nama kita di internet / googling apa yang ditemukan ?” Beberapa peserta menjawab artikel yang pernah dibuat, akun media sosial, laman blog pribadi. Bahkan ada yang menuliskan pernah melihat artikel – artikel yang dimuatnya di blog dicopas oleh orang lain. Ya, memang banyak hal yang bisa ditemukan di internet. Termasuk ketika kita ingin melihat jejak digital kita sendiri. Mengecek diri sendiri sangat penting karena jejak seseorang bisa juga disebut jejak digital. Sebuah pengalaman menyebutkan bahwa saat mengikuti short course ke luar negeri, panitia mengecek portofolio guru berdasarkan jejak digitalnya dari akun media sosial.

Dalam perkembangan dunia media sosial ada beberapa istilah baru yang dulu tidak ada. Misalnya Pansos, influencer, buzzer. Semua istilah itu adalah istilah dimana dengan sigap, individu memanfaatkan media sosial. Uniknya saat ini pun semua media mainstream seperti koran, majalah, dan TV mengambil isi beritanya di medsos. Perbedaan buzzer dan influencer adalah Buzzer berasal dari kata buzz yang diartikan sebagai dengung. Jadi seorang buzzer akan melakukan banyak sekali cuitan atau posting mengenai suatu hal. Biasanya dibayar oleh pihak yang berkepentingan. Influencer adalah orang yang sudah terkenal untuk mengatakan produk itu bagus atau tidak (endorse).

Setelah memberikan pengantar, pemateri masuk pada bagian pemaparan Materi Personal Branding. Apa itu Personal Branding? Menurut pemateri, personal branding adalah bagaimana kita membangun dan mempromosikan apa yang kita perjuangkan. Branding erat artinya dengan pembeda dari yang sejenis Mungkin kita lebih sering mendengar penggunaan istilah brand pada merek-merek ternama semacam Apple, Samsung atau Toyota.
Namun lebih lanjut dinyatakan oleh beliau, bahwa brand activation / aktivasi brand  bisa diterapkan juga pada diri kita. Personal branding merupakan kombinasi unik dari keterampilan dan pengalaman yang menjadikan kita sebagai sosok yang sekarang ada. Personal branding juga bisa jadi pembeda diri kita di antara milyaran sosok profesional lainnya di sekitar kita. Pertanyaannya adalah “Mengapa Harus Personal Branding?”

Kebanyakan orang menganggap personal branding itu terlalu makan waktu dan bahkan sebagian orang bilang, personal branding itu tidak penting. Memang benar bahwa demi membangun branding diri kita, diperlukan waktu yang sangat banyak. Namun, anggapan bahwa personal branding itu tidak penting sebenarnya salah. Mengapa? Di era digital ini, tantangan karir/bisnis tak lagi sama . Sebuah bisnis saja memerlukan website yang meyakinkan audience untuk dapat dipercaya sebagai brand bagus yang menyediakan produk/jasa yang bagus juga.

Begitu juga dengan nilai diri kita di mata para pencari pekerja. Tentunya, mereka melihat representasi online Kita sebagai bahan pertimbangan seleksi apakah kita layak menjadi kandidat pekerja ataukah tidak. Mereka mungkin saja melakukan penyaringan tahap awal dengan melihat seluruh profil kita yang tersebar secara online.

Pemateri memberikan penguatan bahwa menurut sebuah badan konsultasi karir CareerBuilder, “Lebih dari setengah atasan/pemilik bisnis tidak mau memperkerjakan calon-calon kandidat pekerja potensial tanpa representasi online yang baik”. Selain itu, “Lebih dari separuh konsumen lebih memilih untuk berbisnis dengan freelancer/perusahaan karena suatu kehadiran online yang kuat dan positif”.

Jadi, menurut beliau, jika kita tidak mulai dari sekarang untuk mengelola reputasi online kita dengan sebaik-baiknya, kemungkinan besar, kita akan secara berkala kehilangan peluang bisnis maupun karir kita sendiri. “Ingat, ini era digital. Tantangan-tantangannya bukan lagi sekadar perkara seberapa mampu Anda menguasai suatu bidang, tapi bagaimana Anda merepresentasikannya secara global lewat dunia online” Ungkap beliau.

Personal branding lebih kepada apa yang bermanfaat atau positif yang kita bisa bagi kepada orang lain. Beberapa peserta pelatihan mulai menuliskan dalam bahan diskusi bahwa mereka kerap kali menganggap apa yang akan mereka tulis itu adalah hal yang biasa – biasa saja sehingga mereka enggan untuk mempublikasikan / posting. Bahkan ada juga yang merasa takut jika apa yang mereka publikasikan itu hanya dianggap sebagai pencitraan bahkan istilahnya “pamer”.

Pemateri menegaskan bahwa tidak perlu menjadi ahli untuk berbagi
Memang dalam personal Branding ada PENCITRAAN dan REPUTASI. Reputasi cara mendapatkannya dengan kerja keras dan konsistensi Pencitraan itu mudah dan cenderung tidak bertahan lama.

Apa manfaat dari personal branding ? Salah satu manfaatnya adalah kita bisa berbagi kepada orang lain tentang hal – hal yang menjadi personal branding kita. Beberapa peserta pelatihan bertanya, bagaimana caranya mulai menulis branding kita ? Pemateri dan teman – teman peserta memberikan saran agar kita mulai menulis dari apa yang kita sukai. Misalnya ada yang suka memasak, maka bisa menuliskan resep masakan. Ada juga peserta yang senang menceritakan kegiatan belajar dengan cara mengaktifkan siswa di kelasnya, dll.

Salah seorang peserta memberikan contoh ketika dirinya mencoba untuk berbagi tentang pelajaran Bahasa Inggris. “Saya ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai penulis lepas untuk artikel Bahasa Inggris. Terkadang saya posting screenshot dari artikel saya di sosmed. Dari situ klien bisa tau kemampuan saya, sehingga mereka mulai "tertarik" utk tahu lebih jauh (Retno Dian Purwadhini). Ini juga yang pemateri maksudkan sebagai soft selling. Jadi intinya, personal branding seperti mempromosikan diri sendiri dalam hal ini tujuannya adalah berbagi dan menginspirasi yang akan mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Selain personal branding, sekolah juga dapat mengaktivasi brand sekolahnya, yang disebut school branding. Jika sebuah sekolah mempunyai branding yang sama dengan sekolah yang lain maka yang membedakannya adalah soal penerapannya. Seperti istilah “Setiap orang bisa mencuri idemu tapi tidak setiap orang bisa mencuri tindakanmu”.
Sebuah sekolah yang sadar branding, akan duduk bersama menentukan arah positioning nya di masyarakat. Sementara jika guru yang melakukan personal branding maka ia akan fokus pada apa yang dimiliki dibanding kelemahan. Dengan adanya peran media sosial maka personal branding guru akan makin cepat tereskpos.

Pemateri memberi contoh, “Saya ingat sekali diawal saya fokus dengan personal branding, saya mulai dengan brand guru kreatif. Lalu saya menulis hal hal.yang orang ingin ketahui lewat tips tips atau resep resep pengajaran terkini” ujarnya.

Kesimpulan pelatihan menulis malam ini adalah :
1.   Berbagilah hal yang anda ingin orang lain ketahui, tidak perlu menunggu sampai ahli,bahkan anda bisa berbagi proses yang sedang anda jalankan;
2.    Jika terus menerus menekuni hal yang sama dan fokus maka itu akan menjadi brand anda


0 Response to "Personal Branding, Memang Penting"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel