Desain Pembelajaran Jarak Jauh Paling Efektif, Rekomendasi Bagi Guru


Desain pembelajaran, gaya belajar, belajar jarak jauh, belajar online, abad 21
Desain Pembelajaran, Tinta Pendidikan Indonesia


“Tiga pertanyaan yang perlu didiskusikan adalah : berapa persen materi pembelajaran yang tidak ada di internet ? Model guru seperti apa yang disukai oleh siswa, apakah guru yang hanya memberikan ceramah ataukah guru yang menggunakan berbagai sumber belajar termasuk internet ? Dan yang ketiga adalah jika semua materi pembelajaran sudah terdapat di internet, lalu apa fungsi guru ?

Sejak pemerintah mengeluarkan Surat Edaran yang salah satu pointnya berisi kebijakan untuk meliburkan guru dan siswa, maka saat itu juga berbagai tawaran tentang model pembelajaran jarak jauh moda daring atau online menjamur di laman media sosial. Sebut saja Rumah Belajar, Ruang Guru, Zenius, Edmodo, Google Classroom, dll. Praktis dan mudah diakses serta memberikan pengalaman belajar berbasis Learning Management System (LMS) merupakan sebuah “nilai jual” bagi platform penyedia layanan belajar online tersebut. Namun, apakah ini sebuah desain pembelajaran yang efektif ? Bagaimana dengan live streaming, chat melalui WhatsApp dan Telegram, bahkan video pembelajaran di Chanel Youtube ?


Kondisi Real Pembelajaran Jarak Jauh

Rupanya tidak semua daerah, dalam hal ini tidak semua sekolah dapat melaksanakan pembelajaran daring sebagai layanan pembelajaran bagi siswa selama masa libur di rumah dan belajar di rumah. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa guru, termasuk penulis sendiri tentang kondisi real pembelajaran jarak jauh yang mereka hadapi saat ini.

Pembelajaran jarak jauh yang saat ini dilaksanakan di sekolah penulis baru sebatas penggunaan video pembelajaran yang diupload di chanel youtube, dari sejumlah 20 siswa di kelas, baru sekitar 5 siswa yang dapat menggunakan video tersebut. Namun, video pembelajaran yang dibuat oleh penulis, lebih banyak dimanfaatkan oleh guru dan siswa dari sekolah lain, bahkan dari luar NTT. Selebihnya, siswa belajar dengan memanfaatkan buku cetak.

Lain lagi dengan cerita dari Ibu Eva Hariyati, Ibu Eva mengajar di Kupang, NTT. Basic keguruannya adalah bidang IT sehingga Ibu Eva memberikan layanan belajar kepada siswa – siswa SMA di sekolahnya dengan memanfaatkan google classroom, Microsoft Kaizala, hingga google form untuk penugasan.


Kendala yang Ditemui di Lapangan 

Bercermin dari sharing para guru tadi malam dalam acara bertajuk “Mendesain Pembelajaran Jarak Jauh” yang dilakukan melalui teleconference webex bersama Host Bapak Indra Charismiadji, seorang praktisi dan pemerhati pendidikan 4.0, sebenarnya proses pembelajaran jarak jauh yang saat ini dijalankan oleh para guru di seluruh Indonesia, masih kurang efektif. Hal ini dikarenakan masih banyaknya kendala yang ditemui di lapangan.

Adapun kendala – kendala tersebut adalah sbb :
1.  Lemahnya infrastruktur, seperti sarana dan prasarana pembelajaran online (computer, laptop, gawai), jaringan internet terbatas, kuota paket data yang minim, belum terjangkau listrik, dll

2.   Terbatasnya Info struktur, yaitu kurangnya kemampuan guru dan siswa dalam mengakses layanan belajar jarak jauh yang berbasis LMS, seperti google suite dan google classroom. Selain itu, implementasi pembelajaran HOTS masih belum tampak, pembelajaran yang dilakukan guru belum mampu melatih kemampuan daya nalar seluruh siswa.
3.      Belum tumbuhnya info kultur, hal ini ditandai dengan masih adanya mindset guru sebagai pusat belajar dan satu – satunya sumber belajar. Kultur yang harus dibangun saat ini di dunia pendidikan adalah kultur era digital, sehingga guru diharapkan dapat mengambil peran penting dalam pendidikan abad 21. 

Ketiga kendala yang sudah diungkapkan di atas, sebenarnya merupakan 3i Framework Digitalisasi Pendidikan, yang harus dihayati dan dijadikan panduan dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh agar proses pembelajarannya benar – benar efektif.


Tantangan Pendidikan Masa Kini

Dengan adanya kendala – kendala dalam implementasi 3i Framework untuk pembelajaran abad 21, maka semua pihak terkait harus melakukan sinergi yang baik agar dapat membantu siswa dalam menjawab aneka tantangan pendidikan masa kini. Untuk mengetahui tantangan pendidikan masa kini, kita harus melandasinya dengan pemahaman terhadap 4 pilar pendidikan UNESCO, yaitu : Learning to Know (belajar untuk mengetahui), Learning to Do (belajar untuk melakukan sesuatu), Learning to Be (belajar untuk menjadi sesuatu), dan Learning to Live Together.

Dengan demikian, sebenarnya yang lebih penting dari belajar, bukanlah konten atau materi pembelajaran itu sendiri (What to Learn), melainkan bagaimana cara belajar (How to Learn). Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa ilmu selalu berkembang. Setiap saat ilmu akan terus diupdate oleh peradaban. Sebagai contoh, sekitar tahun 2000, Pasar Handphone dirajai oleh produk – produk Nokia. Sehingga orang – orang berusaha untuk mempelajarinya. Namun, ketika di masa sekarang, kebutuhan informasi lebih penting daripada kebutuhan teknologi, maka orang – orang akan lebih banyak mencari produk Handpone yang memberikan layanan informasi secara cepat, misalnya handphone yang mengusung tipe android.

Demikian juga dalam dunia pendidikan. Memasuki era Revolusi Industri 4.0, banyak kekhawatiran jika peran guru tergantikan oleh teknologi. Apalagi selama ini guru masih “tersesat” dalam struktur kurikulum. Muatan Kompetensi Dasar (KD) yang tercantum dalam Permendikbud No. 37 Tahun 2018, bukan merupakan urutan materi yang harus dipelajari oleh siswa, melainkan sekumpulan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa melalui pembelajaran.
Kompetensi Abad 21

Tantangan pendidikan masa kini, menuntut siswa untuk memiliki keterampilan dalam beberapa jenis literasi dasar, seperti baca tulis, numerasi, digital, financial, dst. Selain itu, siswa juga harus dibekali dengan kemampuan untuk berpikir kritis (critical thinking), berkolaborasi (collaboration), berkomunikasi (communication), dan kreativitas (creativity). Kompetensi dari segi sikap pun harus diperhatikan, baik itu sikap spiritual maupun sikap sosial.

Peran Guru di Abad 21

Untuk dapat membekali siswa dengan keterampilan literasi, Higher Order Thingking Skill (HOTS), 4 C Skills, dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), guru harus menyadari dan melaksanakan perannya di abad 21 sebagai berikut :
·      Leader, maknanya guru harus berperan sebagai pemimpin yang memberi contoh di garis depan kepada anak – anaknya, terutama dalam hal Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
·      Motivator, maknanya adalah guru harus mendorong anak agar tekun belajar.
·      Fasilitator, maknanya adalah guru harus mengarahkan siswa untuk belajar sesuai dengan kompetensi dasar yang diharapkan

Desain Pembelajaran yang Efektif

Berikut ini adalah rambu – rambu penyusunan desain pembelajaran yang efektif :
a.      Didasari oleh pemahaman akan 4 pilar pendidikan dari UNESCO
b.  Selaras dengan ketentuan dalam Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses.
c.    Mengarah kepada digitalisasi pendidikan, hal dilakukan atas dasar perkembangan IPTEK yang begitu cepat di era Revolusi Industri 4.0. Contoh digitalisasi pendidikan berdasarkan SAMR Model adalah dalam hal membaca, pada tahap Substitusi, siswa membaca dengan cara membuka pdf dari email, sedangkan pada tahap Augmentasi, siswa menggunakan kamus dan mencari dokumen untuk dibaca, pada tahap Modifikasi, siswa dapat melakukan modif atau perubahan bentuk dokumen yang dibaca dengan cara memberikan komentar atau tanggapan, dan pada tahap Redefinisi, siswa dapat melakukan interaksi secara langsung dalam bentuk buku interaktif, untuk mendapatkan hasil kegiatan membaca yang diinginkan. Secara lebih lengkap, tergambar dalam tabel berikut :

Digitalisasi Pendidikan SAMR Model

d.    Menjadikan portofolio siswa sebagai target pembelajaran
Ketika guru “tersesat” dalam pemikiran bahwa ujung keberhasilan siswa dibuktikan dengan perolehan nilai kelulusan melalui Ujian Nasional, maka sebenarnya guru secara langsung dan tidak langsung telah mengkerdilkan potensi yang dimiliki oleh siswa. Karena hanya mengukur “Apa yang sudah dipelajari siswa”.

Untuk itu, melalui Permendikbud No. 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid 19, Pemerintah menyatakan bahwa semua bentuk ujian untuk kelulusan dan ujian akhir semester untuk kenaikan kelas yang mengumpulkan banyak orang, ditiadakan. Menanggapi hal tersebut, Bpk. Indra Charismiadji menyatakan bahwa ini adalah kondisi yang bagus, di mana kita bisa mereset kembali sistem pendidikan kita.

Dengan demikian, bentuk – bentuk penilaian yang selama ini dilakukan, seperti paper based test, dapat diganti dengan portofolio siswa. Portofolio ini diyakini dapat lebih efektif digunakan sebagai bentuk penilaian dalam pembelajaran jarak jauh. Contoh – contoh portofolio yang dapat dikembangkan oleh guru, diantaranya : Vlog, Blog, animasi, aplikasi mobile, film, augmented reality, robotics, Internet of Things (IoT), debat, Focus Grup Discussion (FGD), presentasi, performance, buku, dll. 

Jika sistem pendidikan direset kembali dengan menggunakan 4 rambu – rambu untuk mendesain pembelajaran jarak jauh, maka sistem pendidikan di Indonesia dipercaya akan mampu membawa perubahan yang signifikan dari segi mutu pendidikan.

Kesimpulan : pembelajaran jarak jauh seperti apapun bentuknya, harus selalu berpedoman kepada 4 pilar pendidikan UNESCO dan Standar Proses No.22 tahun 2016, dengan tetap memperhatikan karakteristik daerah dan tujuan serta target pembelajaran itu sendiri. 


























11 Responses to "Desain Pembelajaran Jarak Jauh Paling Efektif, Rekomendasi Bagi Guru"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel