(Cerbung) Sebutir Telur untuk Rena

Paskah, telur paskah,
Sebutir Telur untuk Rena


"Kak, lusa kami akan mengikuti perayaan Paskah bersama teman - teman." Ujar Lodi kepada Rena, kakaknya. Kedua adik Rena yang lain pun mengangguk. 

Rena memandang wajah ketiga adiknya. Ia bisa melihat harapan yang begitu besar di mata mereka. 
"Baiklah. Besok Kak Rena akan membeli telur untuk kalian." Janjinya. 

Ketiga adik Rena pun berteriak kegirangan. Terbayang kue - kue lezat dan hidangan lainnya yang akan mereka nikmati bersama. 

Sementara, Rena membayangkan wajah ibunya yang kelelahan setelah bekerja di salah satu rumah makan sebagai pencuci piring. 

Ayah mereka telah lama meninggal karena penyakit yang dideritanya. Rumah sederhana ini adalah satu - satunya peninggalan dari ayahnya. Oleh karena itu, Rena terpaksa putus sekolah untuk membantu ibunya mencari uang dan menyambung hidup keluarganya. Terkadang, Rena bersedih saat melihat teman - temannya berjalan menuju sekolah. Namun, ia tak berlama - lama larut dalam kesedihannya itu, sebab kue - kue buatan Bu Arum, menunggu untuk dijajakan. 

Ya, itulah Rena. Gadis kecil yang bermimpi untuk menjadi seorang pelukis hebat, namun terpaksa kandas saat kondisi keluarganya membuat dia harus merasakan hidup serba prihatin. Seragam SMP yang didapatnya dari Anak Bu Arum, hanya bertahan 1 semester. Karena ia lebih memilih membantu ibunya mencari uang. 

Lodi, Amar, dan Kasih adalah tiga orang adiknya yang kini bersekolah di SD. Lodi kelas 4, Amar kelas 3, dan Kasih kelas 1 SD. Beruntung, sekolah tempat mereka belajar memberikan layanan belajar gratis sehingga ketiga adiknya tetap bisa belajar. Sedangkan Rena, bersekolah di sekolah swasta karena jarak dari rumahnya ke sekolah negeri sangat jauh. 

"Kak, beli kuenya satu." Rena tergagap mendengar suara seorang anak perempuan yang hendak membeli dagangannya. Rupanya tadi ia melamun sambil memangku dagangannya. Ia bergegas memberikan kue itu kepada anak tersebut. 

"Wah, kuenya enak sekali, Kak. Aku mau beli lagi, lima ya." Kata anak tersebut sambil menyerahkan uang kepada Rena. Rena sangat senang. "Semoga ia bisa menjual kuenya sampai habis. Jadi nanti Bu Arum bisa memberinya uang bonus yang lebih banyak dan ia bisa membeli telur untuk adik - adiknya." 

Hari semakin siang, kue - kue Rena masih banyak yang belum terjual. Ia merasa gelisah. Batal sudah rencananya untuk membeli telur - telur untuk adiknya.

Tiba - tiba, sebuah sepeda motor berhenti di dekat tempat Rena berjualan. Ia melihat anak kecil yang tadi membeli kuenya dengan seorang ibu yang masih muda. 
"Kak, tadi aku membeli kuenya di sini." Kata anak itu sambil menunjuk Rena. Mereka berdua pun menghampiri Rena. 

"Dik, saya mau membeli kue yang tadi. Apakah masih ada ?" tanyanya. 
"Oh, iya, Kak. Masih ada nih." Jawab Rena. 
"Coba adik hitung, ada berapa semua kuenya ?" 
Rena pun menghitung kue yang masih tersisa. "Ada 22 buah kuenya, Kak," jawabnya. 

"Baiklah. Ini ada uang Rp 30.000,00. Kakak ambil semua kuenya." 
Rena menerima uang itu dengan perasaan senang. Ia pun bergegas mencari uang kembalian di kantong bajunya. 
"Tidak usah kembalian, Dik." Kata pembeli itu kepada Rena. "Anggap saja itu uang bonus." Tambahnya. Mata Rena berbinar. Selain kue jualannya habis semua, ia pun masih mendapat uang yang bisa ia pakai untuk membeli telur. 
"Pasti Lodi, Amar, dan Kasih akan senang sekali," gumamnya. 

Rena bergegas berjalan pulang ke rumah Bu Arum. Tak lupa, ia pun singgah di Kios Pak Kisran untuk membeli beberapa butir telur. Rena memasukkan telur - telur tadi di tempat kue Bu Arum agar telur - telur itu tidak pecah. 

Sesampainya di rumah Bu Arum, Rena menitipkan uang hasil penjualan kue dan tempat kuenya kepada Siska. Karena saat itu Bu Arum sedang membeli bahan - bahan kue di warung. Siska adalah anak Bu Arum yang pertama. Ia juga anak yang baik dan ramah. Ia yang memberikan baju seragam SMP nya untuk Rena. 

Karena terburu - buru, Rena lupa mengambil telur - telur yang disimpannya di dalam tempat kue. 
Hatinya begitu senang memikirkan ketiga adiknya. 

Sesampainya di rumah, Rena mendapati ketiga adiknya sedang bermain. Mereka menyambut kedatangan Rena dengan gembira. "Kak, mana telur yang kakak janjikan kemarin ?" Tanya Kasih si bungsu. Rena merasa terkejut. Dia baru ingat dengan telur - telur yang tadi dibelinya di warung Pak Kisran. 

"Ya ampun! Kakak lupa membawanya." Ujar Rena. Wajah ketiga adiknya berubah murung. Rena merasa sangat bersalah. Ia berusaha menenangkan adik - adiknya dan berjalan kembali ke arah warung Pak Kisran. 

"Tadi kan sudah saya serahkan telur - telur itu sama kamu." Jawab Pak Kisran saat Rena menanyakan telur - telur yang sudah dibelinya. Rena berusaha keras mengingat ketika beberapa jam yang lalu, dia membeli telur di warung ini. Dia memilih beberapa telur dari rak telur di bagian atas, menimbangnya lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam. Kemudian membayarnya dan mengambil tempat kue itu, "Astaga!Tempat kue itu! Ya, pasti ada di sana." Pikirnya. 

Setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Kisran, ia pun setengah berlari menuju rumah Bu Arum. Sementara itu, dari arah yang berlawanan, sebuah sepeda motor melaju kencang. Dan .... 

(bersambung) 

Apakah yang terjadi dengan Rena selanjutnya ? 

Kita baca kelanjutan kisahnya esok hari. 

7 Responses to "(Cerbung) Sebutir Telur untuk Rena "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel