Tere Tanpa Liye

 


Tere Liye! Siapa yang tidak pernah mendengar tentang penulis novel laris yang satu ini ? Saya yakin sahabat bukan hanya pernah mendengar tentang beliau, namun pasti sudah juga membaca novel - novelnya. Saya juga sudah membaca novel Tere Liye yang berjudul Pulang, Hujan, Sepotong Hati yang Baru, dst. Ya, saya memang mengagumi karya - karya beliau yang fantastis. Boleh dikatakan, saya juga ngefans sama Tere Liye. 

Tapi di sini saya tidak akan menceritakan lebih banyak tentang Tere Liye. Melainkan tentang Tere Tanpa Liye, yaitu saya sendiri. Mengapa hal ini perlu saya sampaikan ? Karena sudah banyak orang yang salah sasaran dan menduga jika saya adalah Tere Liye, sang penulis novel itu. 

Sebenarnya untuk saya malah menjadi hoki, jika ada yang salah sasaran begitu. Namun, saya jadi malu sama Bang Tere Liye yang asli, atau takut juga jika dikira pansos oleh para fans nya. 

Baiklah, untuk lebih mengenal tentang Tere Bukan Liye ini, kita mulai dengan perkenalan singkat. Nama saya adalah Theresia Sri Rahayu, dilahirkan di Kuningan, 13 September 1984. Teman - teman dekat saya sebelumnya memanggil saya dengan nama "Sri", namun ketika tahun 2011, saya mengikuti pra jabatan CPNS, teman - teman se angkatan memanggil saya dengan sebutan "Tere". Dan sebutan ini terus melekat sampai saya mutasi ke Pulau Sumba, NTT. 

"Banyak sekali perempuan Jawa yang datang ke Sumba dan bernama "Sri", makanya nanti di Sumba, panggilanmu "Tere" saja." Pesan suami pada saya. Saya pun mengiyakan, walau di dalam hati ada sedikit ganjalan, karena dalam Bahasa Sunda (Saya aslinya Sunda,lho), Tere itu artinya anak tiri. Hiks!

Dalam perjalanan waktu, saya pun terbiasa dengan penggilan itu. Sampai pada tahun 2019 yang lalu, ketika saya berkesempatan mengikuti Short Course 1000 guru ke luar negeri, saya mendapat tambahan sebutan menjadi Cikgu Tere. Karena saat itu saya melaksanakan praktek mengajar di salah satu Sekolah Dasar yang berlokasi di George Town, Penang - Malaysia. 

Dan untuk mengenang pengalaman berharga itu, saya abadikan nama "Cikgu Tere" menjadi nama blog ini. Harapannya bekal ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh menjadi pemantik kesuksesan di masa yang akan datang. Selain itu, saya juga berharap agar blog Cikgu Tere ini dapat menjadi media berbagi inspirasi dan motivasi bagi para pembacanya. 

Terkait dengan berbagi inspirasi dan motivasi ini, saya sendiri sudah membingkainya menjadi sebuah buku yang berjudul "Bukan Guru Biasa, Catatan Inspiratif Guru Penggerak". Buku tersebut menceritakan tentang arti seorang guru yang hebat dan inspiratif, di antaranya ada guru blogger, youtuber, bahkan guru inovatif dari berbagai daerah di Indonesia, selain itu, ada juga kisah - kisah menarik yang dialami oleh Cikgu Tere sepanjang tahun 2019 dari perjalanan demi perjalanan yang dilakukan. 

Catatan - catatan menarik tersebut, diringkas dalam profil berikut: 


Semoga profil yang disajikan di atas dapat membuat sahabat lebih mengenal Cikgu Tere agar tidak salah sasaran lagi. Saya memang Tere, seorang guru Sekolah Dasar namun saya bukan guru biasa, dan Tere Tanpa Liye. 

Salam blogger. Salam persahabatan. 


7 Komentar untuk "Tere Tanpa Liye"

  1. Sangat termotivasi setelah membaca cerita ibu, apalagi Tere Liye adalah salah satu idola saya juga.
    Hampir salfok waktu baca. Kirain Tere Liye eh ternyata Tere Bukan Liye. Salut 1000 buat ibu Ratu Prestasi

    BalasHapus
  2. Memacu semangat... terima kasih motivasinya ibu...sehat dan sukses slalu aamiin

    BalasHapus
  3. Waw ibu Tere luar biasa sepak terjangnya....mantap, sukses selalu ya.

    BalasHapus
  4. Slmt mbak Tere, sangat menginspirasi saya, sungguh saya jadi ikut semangat atas kesuksesanx.
    Salam dari saya di Waingapu🙏🙏🙏
    Slm blogger

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel